Sebagian besar orang tua masih berpandangan bahwa anak mereka akan dianggap sukses jika bekerja sebagai karyawan, pegawai negeri sipil, tentara atau polisi. Demikian juga orang tua dari Harsono, pria kelahiran Semarang, 35 tahun lalu ini. Mereka menyekolahkan Harsono sampai lulus Sarjana Hukum (SH) dari Universitas Semarang dengan harapan setelah lulus kuliah anak mereka bisa menjadi tentara atau PNS sesuai ijazahnya.

Setelah lulus, Harsono menyoba peruntungannya melamar berbagai pekerjaan bermodalkan ijazah SH yang dimilikinya. “Bermacam-macam tes saya ikuti, termasuk melamar menjadi hakim dan anggota Tentara Nasional Indonesia. Namun tak ada satu pun dari berbagai tes tersebut yang berhasil lolos dan bisa diterima mendapatkan pekerjaan,” kata Harsono.

Berkali-kali gagal dalam tes pekerjaan yang diikutinya, akhirnya Harsono memilih untuk merintis usahanya sendiri daripada harus kerja ikut orang lain. Orang tuanya marah dan tidak merestui Harsono membuat usaha sendiri karena mereka masih berkeinginan anaknya bekerja sebagai PNS atau tentara. Namun, Harsono tetap teguh pendirian memulai usahanya tersebut.

Read more: Banyak Inspirasi Baru dari Bisnis Dalam Jaringan

Beberapa hari lalu ada seorang rekan di Twitter menanyakan dua hal yang selalu hangat untuk dibahas dan sekaligus membuat pasar modal dan bursa berjangka menjadi sebuah momok yang dianggap menakutkan.

Dua hal itu mengenai anggapan bahwa di pasar modal terdapat bandar saham dan di bursa berjangka terdapat sebuah 'stempel' bahwa broker atau pialang menjadi bandar dari transaksi sehingga ujung-ujungnya merugikan investor dan pelaku pasar.

Meskipun saya telah membahasnya dalam satu buku lengkap mengenai bandar bursa dengan judul “Bandarmology” serta praktik perdagangan di bursa berjangka dan komoditi di buku “Gold Trading Revolution”, namun kiranya saya perlu mengulas dalam satu buah artikel singkat yang bisa memberikan sebuah gambaran.

Apakah memang dalam pasar saham terdapat bandar saham? Seorang bandar dalam artian bisa mengendalikan sebuah pergerakan harga. Secara sederhana, perlu kita akui bahwa bila seseorang atau sekelompok orang memiliki uang dalam jumlah besar atau kepemilikan saham dalam jumlah besar, mereka berpotensi menjadi bandar.

Read more: Apakah Ada Bandar di Bursa Saham?
Page 2 of 4