Dalam halaman muka prospektus reksa dana, biasanya terdapat sebuah kalimat “Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk perbankan”. Maksud dari pernyataan pasar modal adalah bahwa reksa dana merupakan produk yang mengandung risiko, bukan produk perbankan yang memberikan hasil pasti. Apa saja risiko-risiko dari suatu reksa dana?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), risiko adalah akibat kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Dalam konteks investasi reksa dana, risiko adalah kondisi tidak mengalami keuntungan atau bahkan mengalami kerugian selama periode investasi.

Jadi jika anda melakukan investasi di reksa dana, dan ketika melihat laporan perkembangan saldo ternyata nilai hasil investasi yang tercatat lebih kecil daripada modal yang disetorkan, maka kondisi itulah yang disebut dengan risiko.

Read more: Mengenal Risiko Reksa Dana

Hingga pertengahan tahun, 2015 tampaknya merupakan sebuah tahun yang termasuk ‘masa-masa ekonomi sulit’. Hal ini terkonfirmasi dan benar dialami oleh para pelaku usaha. Rekan-rekan saya mengakui bahwa bisnis mereka mengalami kelesuan.

Banyak faktor yang terjadi dan sepertinya semua media sudah banyak yang mengulas fakta-fakta perlambatan pertumbuhan, sehingga tidak akan dibahas kali ini.

Sebagai manusia kita tetap perlu melanjutkan kehidupan atau dalam bahasa kerennya sering disebut, “The show must go on.” Setujukah Anda?

Apakah meratapi perubahan ekonomi yang sedang mengalami kelesuan akan memberikan sebuah jalan atau titik terang? Tentu jawabannya adalah tidak.

Biasanya contoh atau cerita ini digunakan banyak motivator untuk mengangkat semangat orang-orang namun kiranya boleh juga kita membawanya dalam sudut pandang seorang pelaku di dunia ekonomi.

Banyak yang sudah menunjukkan bahwa kesalahan utamanya terletak pada pemikiran yang terlalu fokus pada masalah, bukan pada solusi. Apakah Anda saat ini sudah fokus pada solusi?
Contoh mudahnya, bila saat ini secara fakta dapat kita lihat bahwa semua pergerakan saham mengalami penurunan atau stagnan, artinya ada saham dari perusahaan bagus yang saat ini ikut turun terbawa tren. Ya, meski secara fakta memang perusahaan itu juga mengalami penurunan kinerja.

Namun, perusahaan yang baik bukanlah perusahaan yang tidak merugi atau tidak melesu ketika bisnis dan perekonomian melesu, melainkan perusahaan yang mampu bertahan dari segala keadaan ekonomi. Meski perekonomian buruk dapat bertahan, dan ketika membaik mampu membaik lebih cepat.

Artinya, bisa kita sadari bahwa ada harga yang terdiskon dari merek terbaik. Ya, sudah sering saya kemukakan sudut pandang ini.

Hal lain yang perlu dibuang adalah pemikiran optimistis. Wow? Tidak salah? Optimisme adalah sebuah hal yang baik, betul?

Dalam kondisi yang tidak mendukung, terkadang optimisme justru membawa kita pada sebuah tindakan spekulasi.

 

Oleh Ryan Filbert*
@RyanFilbert

Page 3 of 4